Rabu, 22 Juni 2011

4 Kiat Menjaga Rumah Tangga Agar Tetap Harmonis

Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.


Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.


Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.


Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.


Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.


Ada empat kiat yang mesti diperhatikan agar keharmonisan dalam rumah tangga tetap terjaga, keempatnya adalah:


1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.


Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.


Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.


Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.


Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.


Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.


3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan
sudut pandangnya.


Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.


Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara . Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.


4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.


Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi. 



Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!



Selasa, 21 Juni 2011

Pasangan Hidup


Ada kalanya seseorang memiliki pasangan hidup berparas menarik,

tapi ucapannya 'pedas' dan menyakitkan. Yang lain barangkali rupawan,
ucapan enak didengar tetapi sangat boros. Ada pula seseorang yang pandai
menyenangkan pasangan, pandai mengatur keuangan, namun kurang
rajin beribadah.

''Manusia itu seperti unta. Di antara 100 ekor unta, sangat sulit kamu
menemukan seekor yang sangat baik tunggangannya. '' (HR Bukhari Muslim).
Bagi istri hampir tidak mungkin mendapatkan suami yang gagah perkasa,
mulia, dermawan, berilmu luas, banyak sedekah, pandai mengendalikan
amarah, mudah memaafkan orang lain, dan romantis. Bagi suami, hampir
tidak mungkin memiliki seorang istri yang cantik, pandai menyenangkan
suami, cekatan, pintar mengelola keuangan, rajin beribadah, serta sejuta
sifat baik lainnya.

Nasihat Rasulullah SAW, berkenaan kekurangan yang ada pada
pasangan kita, ''Hendaknya seorang Mu'min tidak meninggalkan
seorang Mu'minah. Kalau dia membenci suatu perangai pada diri
istrinya, dia pasti menyenangi perangai yang lain.'' Pesan Rasulullah
senapas dengan firman Allah, ''Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka,
(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.'' (An Nisa [4]: 19).

Tentu saja bukan berarti kita membiarkan begitu saja beberapa aib ataupun
kekurangan pasangan kita. Harus ada usaha berupa perkataan (nasihat lisan)
maupun perbuatan (nasihat dengan teladan) untuk memperbaiki kekurangan
pasangan. Namun tentu saja, usaha perbaikan tersebut harus dengan keikhlasan
serta cara yang sebaik mungkin kita mampu.

Hendaknya kita melihat tindakan memberi nasihat merupakan penunaian
kewajiban menyampaikan ilmu ataupun nilai kebaikan yang orang lain
pada saat itu belum memilikinya. Tentu saja dengan tetap menyadari
orang yang kita nasihati memiliki beberapa kelebihan yang tidak kita miliki.
Selain ikhlas dalam menasihati, penting pula ikhlas dalam menerima nasihat.
Ketika kita dinasihati, hendaknya kita kendalikan serta lunakkan hati kita
untuk ikhlas menerimanya.

Adakalanya suatu nasihat kebenaran akan mendapatkan penolakan
ketika cara penyampaiannya salah. Hendaknya kita pandai memilih
metode dan waktu yang lebih tepat untuk menasihati pasangan kita.
Bil hikmah wa mau'idzhatul hasanah, dengan hikmah serta pelajaran
utama. Semoga apa yang dicontohkan banyak rumah tangga publik figur
belakangan ini, tidak terjadi pada kita. Aamiin…

Senin, 20 Juni 2011

Kasih Sayang itu adalah Akhlaq yang Baik


Selain cinta yang bersifat lahiriah (fisik), Allah juga mengajari kita agar membina cinta yang bersifat batiniah (fisikis), yaitu kasih sayang (Rahman & Rahim). Inilah cinta universal, yang lebih bertumpu pada rasa belas kasih sesama.


Ini penting, sebab cinta yang bersifat lahiriah, lama-lama akan mengalami penurunan, seiring dengan menurunnya performance fisik. Yang lelaki maupun yang perempuan, sama-sama akan menjadi tua dan keriput. Bahkan kemampuan bercinta pun akan menurun seiring dengan bertambahnya usia.

Karena itulah, Allah memberikan Anugerah lain berupa rasa kasih sayang, yang tidak terikat pada keindahan fisik, melainkan lebih bersifat batiniah dan keluhuran akhlaq. Inilah sifat kemanusiaan yang bersumber kepada sifat-sifat Allah, yang Maha Pengasih tanpa pilih kasih dan Maha Penyayang tanpa pandang bulu.


Tak peduli sedang kaya atau sudah miskin, tak peduli sedang sehat atau sakit, tak peduli masih tampan dan cantik ataukah sudah tua renta, sifat kasih sayang tetap melekat kepada orang-orang yang ber-akhlaq dan berbudi pekerti baik, yaitu orang-orang yang ketularan sifat Ketuhanan (illahiah).

Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi perubahan yang berlawanan antara cinta dan kasih sayang. Cinta biasanya akan menurun seiring dengan bertambahnya usia, akan tetapi kasih sayang bisa meningkat seiring dengan umur dan meningkatnya kebijakan seseorang.


Suatu ketika ada seorang pria berusia 60-an tahun yang mengatakan kepada saya bahwa ia dengan istrinya kini sudah seperti kakak dan adik saja layaknya. Perasaan cintanya tidak menggebu-gebu lagi seperti ketika berumur 30-an atau 40-an tahun. Akan tetapi dia merasakan ada suatu perasaan seperti ‘cinta’ yang tidak bergantung kepada penampilan fisik, melainkan lebih kepada 'kecocokan' batin, keinginan saling membantu dan meringankan, keinginan untuk membahagiakan pasangannya, karena ia merasa selalu dibahagiakan. Itulah perasaan kasih sayang yang tulus.



Islam mengajarkan agar kita memupuk rasa kasih sayang itu. Bukan hanya sekadar cinta lahiriah, tetapi juga kasih sayang batiniah. Insya Allah rumah tangga yang dikembangkan ke arah kasih sayang akan menjadi lebih langgeng, ketimbang hanya bersifat lahiriah.


Hal-hal yang bisa mendorong terpupuknya kasih sayang itu adalah akhlaq yang baik, sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Sebaliknya, yang bisa mengganggu terpuruknya kasih sayang adalah akhlaq yang buruk.


Orang-orang yang suka marah, pembenci, iri, dengki, serakah, egois, dan lain sebagainya, akan cenderung sulit memupuk rasa kasih sayang. Sebaliknya orang yang jujur, adil, rendah hati, dan penyabar memiliki 'kans' yang besar untuk menciptakan rumah tangga yang penuh Rahman Rahim alias kasih sayang.



Karena itulah, Nabi Muhammad SAW adalah seorang rasul yang diutus untuk memperbaiki akhlaq manusia. Di perbaikan akhlak itulah kunci keberhasilan hidup kita, dunia dan akhirat.