Ini penting, sebab cinta yang bersifat lahiriah, lama-lama akan mengalami penurunan, seiring dengan menurunnya performance fisik. Yang lelaki maupun yang perempuan, sama-sama akan menjadi tua dan keriput. Bahkan kemampuan bercinta pun akan menurun seiring dengan bertambahnya usia.
Karena itulah, Allah memberikan Anugerah lain berupa rasa kasih sayang, yang tidak terikat pada keindahan fisik, melainkan lebih bersifat batiniah dan keluhuran akhlaq. Inilah sifat kemanusiaan yang bersumber kepada sifat-sifat Allah, yang Maha Pengasih tanpa pilih kasih dan Maha Penyayang tanpa pandang bulu.
Tak peduli sedang kaya atau sudah miskin, tak peduli sedang sehat atau sakit, tak peduli masih tampan dan cantik ataukah sudah tua renta, sifat kasih sayang tetap melekat kepada orang-orang yang ber-akhlaq dan berbudi pekerti baik, yaitu orang-orang yang ketularan sifat Ketuhanan (illahiah).
Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi perubahan yang berlawanan antara cinta dan kasih sayang. Cinta biasanya akan menurun seiring dengan bertambahnya usia, akan tetapi kasih sayang bisa meningkat seiring dengan umur dan meningkatnya kebijakan seseorang.
Suatu ketika ada seorang pria berusia 60-an tahun yang mengatakan kepada saya bahwa ia dengan istrinya kini sudah seperti kakak dan adik saja layaknya. Perasaan cintanya tidak menggebu-gebu lagi seperti ketika berumur 30-an atau 40-an tahun. Akan tetapi dia merasakan ada suatu perasaan seperti ‘cinta’ yang tidak bergantung kepada penampilan fisik, melainkan lebih kepada 'kecocokan' batin, keinginan saling membantu dan meringankan, keinginan untuk membahagiakan pasangannya, karena ia merasa selalu dibahagiakan. Itulah perasaan kasih sayang yang tulus.
Islam mengajarkan agar kita memupuk rasa kasih sayang itu. Bukan hanya sekadar cinta lahiriah, tetapi juga kasih sayang batiniah. Insya Allah rumah tangga yang dikembangkan ke arah kasih sayang akan menjadi lebih langgeng, ketimbang hanya bersifat lahiriah.
Hal-hal yang bisa mendorong terpupuknya kasih sayang itu adalah akhlaq yang baik, sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Sebaliknya, yang bisa mengganggu terpuruknya kasih sayang adalah akhlaq yang buruk.
Orang-orang yang suka marah, pembenci, iri, dengki, serakah, egois, dan lain sebagainya, akan cenderung sulit memupuk rasa kasih sayang. Sebaliknya orang yang jujur, adil, rendah hati, dan penyabar memiliki 'kans' yang besar untuk menciptakan rumah tangga yang penuh Rahman Rahim alias kasih sayang.
Karena itulah, Nabi Muhammad SAW adalah seorang rasul yang diutus untuk memperbaiki akhlaq manusia. Di perbaikan akhlak itulah kunci keberhasilan hidup kita, dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar